When I was a child, my grandmother in a house in Bukittinggi, with a view of the Sianok . Every school holiday, my parents my brother and me there for a month.
Waktu aku kecil, nenekku tinggal di sebuah rumah kayu di Bukittinggi, dengan pemandangan Ngarai Sianok. Setiap libur sekolah, orang tuaku mengirim aku dan kakakku ke sana selama sebulan.
Grandma us at five with the smell of coffee and fried bananas. After breakfast, we to the market with her, carrying that were almost as big as we were.
Nenek membangunkan kami pukul lima dengan aroma kopi dan pisang goreng. Setelah sarapan, kami berjalan ke pasar bersamanya, membawa keranjang yang hampir sebesar tubuh kami.
She everyone in town. us free sweets because we were "Uni Ros's grandchildren".
Dulu Nenek mengenal semua orang di kota. Para pedagang biasa memberi kami permen gratis karena kami "cucu Uni Ros".
In the afternoons, we on the while she told stories about her own childhood. I of the monkeys in the canyon, so she would hold my hand every time we walked past.
Di sore hari, kami duduk di beranda sementara dia bercerita tentang masa kecilnya sendiri. Dulu aku sangat takut pada monyet-monyet di ngarai, jadi dia selalu menggandeng tanganku setiap kali kami lewat.
Grandma last year. Her house now belongs to my cousin, but when I visit, I still sit on the veranda at five o'clock, waiting for a smell of coffee that never comes.
Nenek meninggal tahun lalu. Rumahnya kini milik sepupuku, tetapi setiap kali aku berkunjung, aku masih duduk di beranda pukul lima, menunggu aroma kopi yang tak pernah datang.
Uji pemahaman Anda
+20 XP-
1. What would Grandma make for breakfast?
-
2. "I ___ terrified of the monkeys." (keadaan)
-
3. "Every holiday, my parents ___ us there."
-
4. Why did traders give them free sweets?
/
Buat akun gratis untuk menyimpan progres dan mendapat XP dari setiap cerita. Daftar gratis